Awal Dari Kegagalan :
“Tuttniittt….tuuuuniiiittt...niiit….”
Itu adalah nada pesan yang terdengar
beberapa kali dari handphone bututku.Aku langsung berlari menuju kekamar untuk
melihat pesan apa yang ada didalamnya,wah….ternyata ada enam pesan ,pengirimnya
dari Lisa,Yanti,Ani,Indah,Mona,dan si cumi.Pertanyaan yang isinya “Dian, NEM lu
berapa,gue kecil…”dari Yanti dan Indah kemudian, kalau dari si cumi cuma bisa
nanyain lagi ngapain.Isi pesan mona sama Ani hanya menayakan mau lanjutin
sekolah dimana.Aku sendiri juga belum punya keputusan untuk melanjutkan sekolah
dimana.Aku yakin,aku bisa masuk SMAN 71
sekolah itu berstandar Internasional.Banyak sekali siswa yang ingin bersekolah
disana dengan alasan bermacam-macam,bukan lagi karena sekolah terfavorit.Termasuk
aku bermimpi masuk dan menjadi lulusan sana,bangga dan bercampur bahagia.Yang
kulihat disana aku pasti bertemu dengan orang-orang hebat yang mempunyai
kualitas yang berharga dan aku menjadi salah satu dari mereka.Sekolah yang
megah dan memakai seragam batik 71.Khayalanku buyar ketika,nada pesanku
berdering kembali,ternyata dari Cia.Cia adalah satu-satunya orang yang paling
kutunggu untuk mengirim pesan padaku.Karena sekarang ini aku menyerahkan masa
depanku ditangannya.Aku meminta batuannya untuk melihat jumlah NEM ku dari
layanan internet.Karena aku tidak punya fasilitas internet dirumah dikarenakan
kurangnya biaya yang belum memadai.Aku membuka isi pesan itu dengan perasaan
campur aduk,deg-degkan,cemas,senyum-seyum sendiri.Degup jantungku berdetak
sangat keras,rasa keingin tahuanku tidak terkendali.
Hingga akhirnya,aku menekan tombol
yes.Dan yang kulihat tulisan dengan huruf besar semuanya
”NILAI NEM PUNYA DIAN NITA AGUSTIN SEBAGAI BERIKUT :
BAHASAINDONESIA : 8,40
BAHASA
INGGRIS : 5,80
MATEMATIKA : 6,75
ILMU
PENGETAHUAN ALAM : 7,00
JUMLAH : 27,95 selamat ya Yan.”
Aku
terdiam.Bukan berarti tidak tahu bagaimana membalasnya,tapi menunggu waktu yang
pas sembari mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan apa yang ada dikepalaku
melalui mulutku.Sesuatu yang agak ekstrem melayang dipikiranku.Masih tidak
percaya,aku membaca lagi.Aku tidak sedang berimajinasi.Jadi hanya 27,95 nilai
nominal dari hasil kerja kerasku ini selama tiga tahun aku di SMP.Jumlah yang
menyakitkan untuk masa depanku.Bagaimana bisa aku masuk sekolah favorite
itu,bagaimana ini…..
Aku melangkahkan kakiku keluar dari
kamar untuk mencari ibu.Aku tidak menghiraukan suara nada pesan yang masih
terus berbunyi.Posisi tubuhku tepat ada didepan ibu sekarang,aku tidak berani
bilang jumlah Nemku padanya.Aku takut ia kecewa padaku.”Bu, jumlahnya cuma 27,95.”Aku menggunakan kata-kata “Cuma”
agar kedengarannya tidak terlalu boombastis ditelinga ibuku.”kok.kecil.Itu mah
gak bisa masuk 71.Cia berapa jumlahnya?”dengan
nada yang biasa saja.Aku bingung,anaknya kan aku bukan Cia kenapa ia ingin tahu
sekali jumlah NEM orang lain.Lalu aku jawab “Gak tahu,36 kalie!”nada sedikit
membentak,sembaring mengkerutkan dahi.Aku kembali kekamar ku.Aku menghentikan
aktivitasku sesaat,dan duduk dipinggir tempat tidur.Sempat terbesit rasa
keinginan untuk tahu berapa jumlah NEM Cia.Aku mengirim pesan padanya ”Cia
jumlah NEM lu berapa ?”.Secepat kilat ia membalasnya “gue 33,na”.Aku langsung
membanting handphoneku keatas tempat tidur.Memang benar Cia adalah siswa
satu-satunya yang paling menonjol prestasinya dibandingkan dengan siswa lain.Ia
tumbuh menjadi anak yang cerdas,mungkin karena ia keturunan dari jerman.Sekilas
jika melihat wajahnya ada wajah-wajah bule.Anak ketiga dari empat
bersaudara.Saudara kandungnya perempuan semua.Waktu aku main kerumahnya,aku
tidak bisa membedakan Cia dengan saudara perempuan lainnya,wajah mereka
semuanya hampir mirip.Cia adalah teman yang paling suka bercanda dan tertawa.
Kemudian setelah beberapa saat,aku
memikirkan nilai itu. Dikepalaku tidak ada yang lain selain rasa iri, banyak
sekali pertanyaan-pertanyaan yang membuat kepalaku mau pecah.Aku harus tanyakan
pada siapa.Mengapa hanya segini kemampuan ku? Aku harus sekolah dimana dengan
jumlah itu? Apa aku bisa masuk negeri?
Bisa gak masuk 71? Bagaimana kalu ga bisa masuk?
Sama sekali tidak ada jawaban yang
kudapatkan.Aku sudah kehilangan satu impianku,Aku belum siap menerima kenyataan
itu.Apa yang harus kulakukan?.Begitu banyak rasa kekecewaan yang
kudapati,mengapa aku harus menerimanya ditahun ini?.Seperti ada kekuatan untuk
bangun melihat selembaran daftar nama-nama sekolah negeri yang terceceh didalam
rak-rak buku yang belum kubereskan kemarin malam.Setelah ku teliti dari yang
paling atas hingga bawah,tidak ada.Tidak ada sekolah yang nilai terendahnya
sama dengan nilai NEMku.Aku terduduk lesu masih berharap ada keajaiban datang
menolongku.
Kata hatiku berbicara lagi “Aku
tidak mungkin berhenti sekolah hanya karena ini.Begitu banyak impian-impianku
yang ingin kumiliki suatu hari nanti.Aku ingin sarjana.Aku harus kuat.Masih
banyak hal-hal yang belum kuketahui diluaran sana,Haena…Jangan seperti
ini.Jangan seperti orang bodoh.Tapi,keadaan seperti ini merupakan yang
tersulit.Apa aku akan menerima harga diriku tersisihkan.Bahkan,aku tidak mampu
untuk menyenangkan diriku sendiri.Tuhan….apa kau tahu semua ini.Apa ini takdir
dari-Mu untukku,Tuhan? Mengapa semua menjadi buruk?.” Aku sempat meneteskan air
mata mengatakan kalimat terakhir itu.Mengambil risiko menjadi pilihan
terakhirku.Risiko? Ah.bahkan aku tidak membayangkan aku mempunyai risiko.Ada
sebagian orang yang mengatakan risiko itu adalah segala kemungkinan yang
membuat kita gagal. Berarti aku sudah GAGAL!!!.Aku
jadi ingat buku teens spirit yang mengatakan kesukseskan berawal dari banyaknya
kegagalan yang kita alami.Apa nanti aku akan sukses seperti yang dikatakan buku
itu.Akhhhh….sudah aku sadar dari lamunanku.Kepalaku sakit jika memikirkan hal
seperti itu.
Hari pertama daftar sekolah SMAN.Aku
berangkat pukul 6.35 pagi dengan kendaraan umum dan meamakai baju seragam dari
SMP.Hanya membawa map berwarna merah yang isinya dua lembar hasil keterangan
ujian nasional,kertas kosong,dan bolpoint hitam.Aku mendaftarkan diriku ke SMA
terdekat dari rumah jadi naik kendaraan umumnya hanya satu kali .Dengan uang
sepuluh ribu rupiah disaku,aku memberanikan diri melangkahkan kakiku disana.Jam
sudah menunjukan pukul tujuh.Ketika aku sudah sampai ditempat itu,banyak orang
tua yang lalu lalang mengantarkan siswanya mendaftar.Aku jadi ingat ibu,tadi
pagi aku memintanya untuk mengantarkanku.Tapi malah ia menjawab “Kamukan sudah
besar,masa dianterin sama ibu terus,daftar sekolah gitu ajah ga berani..!”.Aku
sudah tahu jawabannya ia tidak mau mengantarkanku,selalu sibuk dengan
pekerjaannya sendiri dan tidak pernah memperhatikan anaknya.Rasa semangatku
sempat luntur karma hal itu,aku bersusah payah mematahkan pemimikiranku itu.
“Ayolah…..ayolah……, Dian tinggal
sedikit lagi” aku berkeras dalam hati.
Aku mempercepat langkahku untuk
mengambil fomulir yang ada di meja bapak tua itu.”selamat pagi,pak…”begitu ku
menyapanya.”Pagi…eneng dari Jakarta atau dari
luar Jakarta”
dengan nada rasa ingin tahu darimana aku berasal.”Dari Jakarta,pak..”kataku
mantap.”Oh…ini ambil formulir yang kiri ya,pake map warna merah,nanti kalo udah
diisi taruh disini lagi ya,neng..”Sambil menyodorkan kertas formulir
kearahku.Lalu,aku mencari posisi yang enak untuk menulis.Sudah kuisi semua
dataku dengan teliti dan tulisan yang rapih.Kumasukan kertas formulir itu
dengan map merah yang kubawa tadi.Langsung kuserahakan ke bapak tua yang ada
dimeja tempat formulir itu yang dibagikan secara gratis.
”Taruh sebelah sini,neng…Nanti eneng
nungguin diruangan itu aja ya..disana nanti dikasih tanda bukti kalo neng udah
kedaftar.”dengan logat sundannya yang begitu kental.”Ya,pak makasih..”aku
mencium tangannya yang begitu banyak garis-garis kerutan.Matahari sudah semakin
tinggi,tapi nama ku belum juga dipanggil.Untuk menghilangkan rasa bosan,aku
mencari minum keluar.Letak kantin berada ditepi lapangan sebelah kiri.Minuman
berwarna orange itu sungguh mampu menyegarkan tengorokanku yang sedari tadi
minta dikasih air.Tiba-tiba saja ada yang memanggil namaku “Yan..Dian….!!”
Terdengar sura dari seberang sana,aku
masih mencari darimana asal suara itu.
”Eh….Yan
lu daftar disini”
“Hey…Ni.Ya ampun lu bikin gue kaget
ajah…ani lu daftar disini juga,bukannya lu bilang mau masuk sekolah keperawatan langsung.” Kataku
terheran-heran
“iya sih.gue juga udah daftar
disana.Ya,iseng-isenglah daftar SMA siapa tahu bisa diterima” sambil
cengengesan
“Bagus deh kalo kaya gitu, yaudah
kita ketempat pengumuman yok !” melangkahkan kaki ketempat pengumuman
Tepat
pukul jam 13.25 nama ku dipanggil.”siswi yang bernama Dian Nita Agustin,harap
kedepan” dengan memakai speaker.
Aku
langsung bergegas menuju asal suara itu.
“Ini semua datanya sudah
lengkap.Yang lembaran putih ini buat kamu,jangan sampai hilang ya.Besok pagi
kamu datang kesini lagi buat ngecek diterima dimana.”
“Oh….iya Bu,makasih ya bu.”
Harus
menunggu tiga hari lagi untuk menentukan nasibku kemana.Menunggu biasanya
adalah hal yang paling dibosankan oleh semua orang karena,kita tidak tahu
kepastian yang kita yakini itu terjadi.Tidak apa-apalah,aku pasti akan menunggu
dan terus menunggu hari itu.Walaupun tidak tahu hasilnya apa nanti.
Masa Lalu Yang di Kenang
With Love
Dian Agustin
widih dian
BalasHapusceritanya bagus
follow this twitter @TtAVIKOCS
Thanks before :)
bisa ajaaa nih si zul...
BalasHapusudah gue follow kok :)